Ditulis pada tanggal 28 September 2026

FPIK News | Forum internasional yang berlangsung di APEC Haus, Port Moresby pada 11–14 Mei 2026 mempertemukan delegasi negara-negara Pasifik, akademisi, organisasi internasional, lembaga konservasi, dan mitra pembangunan untuk membahas pengelolaan laut berkelanjutan, ketahanan iklim, konservasi ekosistem pesisir, serta tata kelola perikanan di kawasan Indo-Pasifik. Komitmen tersebut ditegaskan melalui partisipasi KKP pada ajang Melanesian Ocean Summit 2026 di Port Moresby, Papua Nugini.

KKP menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi riset lintas negara sebagai fondasi menjaga keberlanjutan ekosistem laut di kawasan Pasifik dan Coral Triangle yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam menjembatani kerja sama negara-negara ASEAN dan Pasifik dalam isu kelautan, konservasi, dan ekonomi biru.

Kolaborasi regional tersebut difokuskan pada penguatan riset pesisir dan kelautan, peningkatan kapasitas SDM, serta pengembangan kebijakan berbasis sains melalui penyusunan rencana aksi bersama 2026–2030, pembentukan tim riset lintas negara, pertukaran dosen dan mahasiswa, simposium ilmiah, pembelajaran lapangan, dan publikasi bersama. Salah satu capaian penting dalam forum tersebut adalah penguatan kerja sama regional melalui pembentukan Bismarck Solomon Seascape (BSS) Science Hub – University Partnership dalam kerangka CTI-CFF yang melibatkan perguruan tinggi dan mitra strategis dari Indonesia, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon.

Kerja sama ini juga mendorong integrasi kearifan lokal dan pengetahuan tradisional masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya laut di kawasan Bismarck Solomon Seascape dengan melibatkan perguruan tinggi di Tanah Papua seperti Universitas Papua (UNIPA), Universitas Cenderawasih (UNCEN), dan Universitas Okmin Papua (UOP), guna mendukung pembangunan kelautan yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.